Fish

Daily Calendar

Minggu, 29 Agustus 2010

Pupuk Organik TOP G2 (JITU) dengan IZIN DEPTAN, TERMURAH, TERIRIT dan BERKUALITAS.


PUPUK TOP G2 adalah pupuk organik cair terbaik berkualitas tinggi, dibuat dari bahan organik pilihan (hewan dan tanaman) bukan berasal dari sampah / limbah, sehingga tidak mengandung racun atau mikroba yang berbahaya bagi kesehatan, serta ramah lingkungan. Diproduksi berdasarkan formula bioteknologi dengan presisi tingkat tinggi melalui fermentasi dan enzimik. isi satu botolnya 500 cc. Adapun keunggulannya antara lain :

1. Sebagai pupuk lengkap yang mengandung hara makro dan mikro, 14 bentuk mineral esensial
2. Pembenah tanah
3. Pengendali hama alami
4. Mengandung senyawa pengatur tumbuh alami gibberelin (GA3), zeatin
5. Mengandung 17 macam asam amino, asam organik, enzim, vitamain dll
6. Mobilisasi nutrisi.

Keunggulan lainnya :

1. Multiguna (dapat digunakan untuk pertanian, peternakan dan perikanan)
2. Mudah dan praktis penggunaannya
3. Ramah terhadap lingkungan
4. Tidak menggunakan bahan pengawet dan tidak memiliki batas Lethel Effect kadaluarsa

Adapun kandungannya antara lain :

* Hara Makro : C organik 5%, Natrium 5%, Posfor 4%, Kalium 6%, Calcium 0,3%, Mangan 0,3% dan Sulfur 0,35%
* Hara Mikro : Barium, Cuprum, Ferium, Zink, Clorida, Mo, Mn



NOMOR PENDAFTARAN DEPTAN: L546/ORGANIK/DEPTAN-PPI/IV/2010



Testimoni Padi:

Hasil panen meningkat 1 ton gabah /ha, dan karena sekarang harga 1 ton gabah Rp.2.300.000 , para petani cukup membayar total harga pupuk dengan kelebihan panen itu.Di Bojonegoro , yang biasanya panen 8 ton gabah/ha, sekarang menjadi 9 ton gabah /ha
(Nama petani : Drs. H.Soewarno ,Dukuh Ngantulan , Ds.Bulu, Kec.Balen Kab. Bojonegoro)

TESTIMONI KONSUMEN:
DRS MUH BASRI SANGKA:
HASIL TANAMAN KACANG PANJANG YANG TELAH MENGGUNAKAN PUPUK TOP G2 , HASILNYA LUAR BIASA KARENA HASILNYA BUAHNYA BANYAK MENINGKAT 3 KALI LIPAT DARI BIASANYA DAN BUAHNYA ADA YANG MEMCAPAI PANJANGNYA 1 METER LUAR BIASA. SALAM SUKSES

DADANG ISKANDAR
Dari banyak pupuk cair organik yang telah kami uji coba dilapangan ternyata top G 2 ( TOP JITU ) yang memberikan hasil yang tidak mengecewakan beberapa tempat yang telah kami uji coba di antaranya kelompok Tani Pik Jaya mandiri pada tanaman sayuran (Bayam,Kangkung, Pakcoy dan Timun ) alhasil panen lebih cepat,mengurangi pemakaian pupuk kimia,dah gitu rasa sayurannya lebih enak. bahkan ada yang tidak memakai pupuk npk pun masih bisa panen, biar lebih yakin buktikan sendiri....

Jumat, 27 Agustus 2010

peluang sayuran organik

Petani Kurang Minati Sayuran Organik
Senin, 10 November 2008 | 09:21 WIB 
KOMPAS/ Irwan Julianto

Makanan Organik seperti sayur danbuah-buahan banyak dijual di supermarket.
YOGYAKARTA, SENIN - Sayuran organik kurang dikembangkan oleh petani di Kabupaten Bantul, padahal peluang pasarnya cukup luas.
     
"Sangat disayangkan, peluang pasar sayuran organik yang cukup luas tidak dimanfaatkan petani di Bantul," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Bantul Edi Suharyanto, Senin.
     
Ia mengatakan kesadaran petani di Bantul untuk menanam sayuran organik masih sangat terbatas. "Mereka menanam sayuran organik hanya pada musim tertentu, semestinya menanam di segala musim karena harga jualnya bisa tinggi, dan ini akan memberi keuntungan lebih banyak lagi bagi petani," katanya.
     
Akibatnya, kata dia, pada masa-masa tertentu stok sayuran organik di pasaran sering kosong.
     
Menurut Edi, pola pikir petani sayuran di Kabupaten Bantul masih terfokus hanya pada volume produksi, dan mereka belum bisa diarahkan ke orientasi bisnis. "Respon petani sayuran di kabupaten ini umumnya agak lamban, hanya petani-petani muda dan tokoh petani yang sudah bisa diarahkan ke orientasi bisnis," katanya.
     
Kata dia, sayuran organik mulai dikembangkan di Bantul sejak dua tahun terakhir. Sayuran jenis ini ditanam di kantung plastik atau yang biasa disebut ’polybag’.
     
Sekitar 13.000 polybag berisi tanaman sayuran organik tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Bantul. Dua daerah penghasil sayuran organik terbesar di kabupaten ini adalah Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu dan Desa Gilangrejo, Kecamatan Pandak.
     
Di Bantul, sayuran organik yang banyak ditanam adalah seledri, loncang, cabe serta terong. Sementara itu, bawang merah dan cabe merah mulai dikembangkan untuk menjadi unggulan produksi sayuran organik kabupaten ini.

Selasa, 24 Agustus 2010

TOP 2 PUPUK ORGANIK CAIR

1.Keunggulan pupuk organik cair TOP G2
-Sebagai pupuk lengkap yg mengadung hara makro & mikro,14 bentuk mineral essensial
-Sebagai  pembenah tanah
-Pengendali hama alami
-Mengandung senyawa pengatur tumbuh alami GIBBERELLIN(GA3), & ZEATIN
-Mengandung 17 macam asa, amino,asam organik,enzim,vitamin,dll.
-Sebagai  mobilisasi nitrisi.
2.Peranan & fungsi TOP G2
-Mengembalikan Ekosistem alami(Bioremediator),meningkatkan aktivitas mikroba tanah menguntungkan(Benefecial microbes).
-Meningkatkan ketersediaan hara.
-Merangsang pertumbuhan hara.
-Merangsang pertumbuhan akar dan tanaman.
-Agen pengendalian biologis(Biocontrol agent).
-Multiguna (pertanian,peternakan,perkebunan.perikanan).
-Meningkatkan efisiensi usaha tani.
-Praktis dan presisi.
-Ramah lingkungan.

keunggulan TOP G2

Top G2 adalah pupuk organik cair terbaik berkualitas tinggi, dibuat dari bahan organik pilihan (hewan dan tanaman) bukan berasal dari sampah / limbah, sehingga tidak mengandung racun atau mikroba yang berbahaya bagi kesehatan, serta ramah lingkungan. Diproduksi berdasarkan formula bioteknologi dengan presisi tingkat tinggi melalui fermentasi dan enzimik. Top G2 mengandung hormon pengatur tumbuh zeatin, gibbrelin (Ga3) serta 14 bentuk mineral essensial (Hara makro/mikro lengkap) dan juga 17 bentuk asam amino, vitamin dan berbagai mikro flora. Top G2 cepat diserap tanaman, serta aktif merangsang dan membantu tanaman untuk meningkatkan penyerapan unsur-unsur hara.

Kandungan dan nutrisi TOP G2 lebih unggul daripada kompos maupun pupuk kandang. Pupuk organik TOP G2 dapat diaplikasikan untuk semua jenis tanaman dan juga sebagai makanan tambahan untuk ternak dan ikan.

Menyusuri kemajuan pertanian dalam Sejarah Islam

...

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kemajuan menyentuh ranah pertanian. Serangkaian teori ditemukan oleh kaum intelektual dan dipraktikkan hingga membuahkan hasil melimpah di tanah-tanah negeri Muslim. Panen pun mengerek tingkat kesejahteraan. Ini semua bermuara pada pengetahuan umat Islam yang memadai tentang pertanian.

Tak hanya soal cara memanen. Mereka telah tahu bagaimana memilih lahan bagi tanaman mereka. Mana yang cocok dan mana pula yang tidak. Sistem pengairan bermunculan dan memicu perkembangan teknologi di bidang ini. Mereka hapal bagaimana membuat pupuk dan komposisi penggunaannya.

Dalam bukunya yang terkenal, Kitab al-Filaha (Buku tentang Pertanian), cendekiawan dari Andalusia atau Spanyol, Ibnu al-Awwan, menjelaskan sejumlah langkah memulai bertani. Hal pertama yang perlu diketahui mengenai pertanian adalah lahan pertanian itu. Apakah lahan tersebut baik atau tidak untuk ditanami.

Ia mengingatkan, siapa yang mengabaikan masalah itu tak akan menuai keberhasilan saat menggarap lahan pertanian. Ini bermakna para petani perlu memiliki pengetahuan tentang lahan, karakteristiknya, jenisnya, tanaman, dan pohon yang mestinya ditanam atau tidak di lahan tersebut.

Selain itu, al-Awwan mewanti-wanti pula agar memahami betul tentang tingkat kelembapan tanah yang berdampak pada semua tanaman. Perlu pula mengetahui jenis tanah, apakah lembut, keras, berpasir, hitam, putih, kuning, merah, kemerah-merahan, atau kasar.

Pengetahuan dasar tentang lahan harus didukung dengan langkah lain untuk mencapai hasil pertanian memuaskan. Untuk hal ini, umat Islam telah mengembangkan teknologi sistem irigasi. Bentuknya memang berbeda-beda di setiap wilayah, ada yang sederhana dan ada pula yang lebih canggih.

Sejarawan al-Hamdani mengisahkan salah satu bentuk sistem irigasi yang ada di Yaman, yang disebut dengan alSamman. Ini merupakan sumber air terkenal. Kedalamannya mencapai tiga meter. Di sekitarnya, terdapat sejumlah sumur dan telaga buatan sebagai penampung air. Sisi-sisinya dibatasi dengan batu.

Pakar geografi Muslim bernama al Istakhri dalam bukunya, Al-Masalik walMamalik, berbicara tentang sistem irigasi. Menurut dia, di Marw (kini berada di wilayah Khurasan, Iran), terdapat sebuah departemen yang secara khsusus dibentuk untuk menangani pengelolaan air.
Departemen tersebut memiliki sebanyak 10 ribu staf.

Menurut Jaser Abu Safieh dari Jordan University, Amman, Yordania, sistem irigasi yang diwariskan oleh umat Islam sangat efisien dan hingga kini masih digunakan di sejumlah wilayah di Andalusia atau Spanyol. Badan seperti Water Court of Valencia masih melakukan pertemuan mingguan pada Kamis seperti yang terjadi pada masa Islam.

Pengembangan sistem irigasi lainnya untuk keperluan pertanian terdapat juga di Irak. Tepatnya, di Fowkhara Gate di tepi Sungai al-Nahrawan, Samarra. Adam Mitz, dalam Al-Hadarah alIslamiyyah, menyebutkan bahwa ilmuwan Muslim saat itu telah mampu mengalirkan air dari sumbernya dengan menggunakan pipa.

Mereka mempunyai sejumlah alat-alat teknik yang bermanfaat untuk mengukur ketinggian tanah dan menggali saluran irigasi di bawah tanah. Akhirnya, ujar Mitz, para ilmuwan itu menemukan sejumlah mesin untuk mengukur tingkat air sungai. Dengan berbagai penemuannya,
pertanian di dunia Islam kian berkembang.

Pupuk Pupuk telah sejak dini menjadi perhatian. Bahkan, telah muncul pemikiran komposisi penggunaan pupuk. Ilmuwan Muslim, Ibnu al-Hajjaj al-Ishbili, melalui bukunya Al-Muqni' fi al-Filahah, menjelaskan bahwa seorang petani mesti tahu jika lahan pertanian tak dipupuk, kemampuannya akan melemah.

Di sisi lain, ia berkata agar penggunaan pupuk tak berlebihan. Bila ini terjadi, tanah akan terbakar oleh pupuk. Dengan pandangan yang disampaikan Ibnu al-Hajjaj ini, pengetahuan pertanian umat Islam saat itu telah mencapai taraf yang tinggi. Sejalan pada masa sekarang, penggunaan pupuk harus sesuai aturan pemakaian.

Pentingnya pemupukan untuk lahan pertanian; Ibnu Bassal, Ibnu Hajjaj, dan Ibnu al-Awwam memberikan penjelasan luas mengenai tipe pupuk dan tingkat kecocokan pupuk pada tanaman dan lahan tertentu. Mereka menyinggung pula penggunaan daun-daun pohon untuk menyuburkan lahan pertanian dan pemakaian pupuk kompos.

Penjelasan mengenai pupuk kompos ini di antaranya terdapat dalam buku yang disusun Ibnu al-Awwam yang berjudul Kitab al-Filaha al-Andalusiyyah. Manuskrip karyanya tersimpan di British Museum. Sedangkan, Ibnu Bassal menjelaskan bagaimana membuat pupuk kompos itu.

Paling tidak, Ibnu Bassal membagi kompos menjadi tiga jenis. Salah satunya adalah kompos yang terbuat dari campuran rumput, jerami, dan abu. Ketiga bahan itu dimasukkan ke dalam sebuah lubang. Lalu, tuangkan air ke dalam lubang tersebut, tinggalkan hingga membusuk. Ia menegaskan, penggunaan pupuk secukupnya saja.

Bassal pun berbagi pengetahuan lainnya. Kali ini, terkait dengan penanaman yang ia sebut sebagai seni menanam. Ada masa dan kondisi tertentu untuk menanam suatu jenis tumbuhan agar bisa berkembang sempurna. Ia menunjuk budi daya labu. "Di negara-negara dingin, seperti Andalusia, biji labu mesti ditanam selama bulan Januari." Lalu, pada bulan April, saat bibit tanaman telah kuat, baru dipindahkan ke lahan permanen.